Eksplorasi 21 Pantai Gunung Kidul Handayani

By Argi Setyo Margie   Posted at  23:18:00   Adventure No comments
Salah Satu Titik Terbaik di Ngobaran untuk Melihat Cakrawala
Ini adalah rangkaian perjalanan yang dibilang cukup melelahkan tapi terbayar tuntas oleh keindahan yang didapat dari alam di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dimana saya dan lima orang teman memiliki rencana menaklukan 21 pantai yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul dalam waktu dua hari. Yang mana disini adalah kawasan geopark yang terkenal dengan sebutan Gunung Sewu Geopark yang kabarnya sudah diakui secara global oleh UNESCO. Singkat cerita, setibanya di Stasiun Lempuyangan pagi hari dilanjutkan sarapan di seberang stasiun, tiga motor matic sewaan yang sudah direncanakan oleh salah satu teman datang. Transaksi tukar kunci dan stnk dengan kartu mahasiswa sampe kartu tanda penduduk kami pun terjadi, disini saya baru tau ternyata salah satu rental ini bagus juga cara kerjanya disamping harga sewa motornya yang murah.

Pantai Ngobaran
Serasa di Bali

Pantai Ngobaran
Waktu itu sekitar jam 10.00 pagi setelah mengisi bahan bakar, kami mulai menarik gas motor matic sewaan kami menuju tujuan pertama yaitu pantai Ngobaran. Dua jam perjalanan yang harus ditempuh saat kami sadari telah sampai di pintu masuk tujuan yang pertama ini. Begitu masuk pantai ini rasanya seperti berada disalah satu pantai di pulau Bali karena ukiran-ukiran batu dan ada beberapa Pura yang menurut saya belum lama dibangun. Pantai ini memiliki area berpasir putih namun tidak luas yang berada dibawah bebatuan keras ini. Dan disebelah kanan Pantai Ngoobaran terdapat satu pantai yang bernama pantai Nguyahan, kami harus berjalan kaki sekitar 200m kedataran yang lebih rendah untuk mencapai kesana.

Pantai Ngrenehan

Perjalanan

Pantai Ngrenehan
Perjalanan dilanjutkan dengan tujuan pantai yang ketiga, pantainya para nelayan yaitu Pantai Ngrenehan. Jarak dari Ngobaran-Ngrenehan tidak begitu jauh, hanya memakan waktu 15 menit. Karena namanya yang terkenal pantai nelayan, dibagian depan saat kami akan memarkirkan motor terdapat pasar yang menjual ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan. Inilah pantai yang membuat kami segar kembali karena kami bisa berenang disini, wilayahnya yang hampir tertutup oleh batuan-batuan besar menjadikan pantai ini memiliki arus air yang tenang dan juga airnya jernih sekali. 


Jalan Bebatuan Menuju Pantai Baron
Main Bola di Pantai Baron
Pantai Kukup
Menjelang sore kita lanjut tancap gas ke tujuan berikutnya, pantai yang sudah jadi trademarknya Gunung Kidul yang terkenal itu pantai Baron. Disini kami sempatkan bermain bola dengan menggunakan bola plastik diarea pantainya. Kemudian dilanjutkan kembali ke Pantai Kukup, dimana disana kami berencana bermalam kami dihari pertama. Keesokan paginya teman-teman saya rupanya sudah ada ditebing pantai Kukup sambil jeprat-jepret kamera disaat matahari terbit.
Sarapan pagi selesai, lanjutlah lagi perjalanan touring kami menggunakan motor berplat AB melalui jalan raya yang salah satu dari kami belum pernah lewati. Pemerintah Daerah nampaknya sangat peduli akan fasilitas infrastruktur untuk menunjang kawasan pariwisatanya, jalan-jalan yang menghubungkan daerah disini sangat mulus. Itu jadi salah satu yang saya nikmati selama motor yang saya bawa melaju. Tibalah di tujuan pertama dihari kedua yaitu pantai Sepanjang berlanjut pantai Watukodok – Drini – Slili – Sadranan. Lalu salah satu yang pantai yang juga terkenal pantai Krakal, ada satu momen yang tak bisa dilupakan di Krakal saat saya melihat pisang berwarna kuning matang yang dipajang diwarung buah dekat pintu masuk. Entah kenapa saya bernafsu sekali membelinya dan tawar menawar sudah terjadi dengan saya mengeluarkan Rp 15.000,- untuk satu tandan pisang itu. Dan begitu kami lanjut lagi ke pantai berikutnya sambil melambatkan laju motor, sambil memakan pisang yang barusan dibeli ternyata pisangnya masih mentah. Sungguh terlalu saya tertipu oleh penampilan mulus sebuah pisang.

Pantai Slili

Pantai Drini
Pantai Ngandong
Pantai selanjutnya adalah pantai Ngandong – Sundak – Somandeng – Indrayanti. Karena banyaknya tujuan yang harus kami capai, saat tiba ditujuan kami hanya sebentar mengelilingi wilayah pantai itu dan take moment lalu pergi lagi. Sehingga banyak yang terlupa mendeskripsikan dengan detail pantai yang saya datangi satu persatu. Tapi untuk Indrayanti, pantai ini adalah yang paling ramai dikunjungi wisatawan. Akses menuju kesini sudah terjadi kemacetan sampai 1-2 kilometer pada saat itu. Pantai ini juga memiliki garis pantai paling panjang diantara pantai-pantai yang ada disekitar Gunung Kidul juga batuan-batuan karang besar yang ada dikanan setelah pintu masuk. Belum selesai, kami berangkat lagi ke pantai berikutnya yang dimana menjadi tempat bermalam dihari kedua. Pantai yang terkenal karena pohon durasnya itu, yaa Poktunggal. Menurut cerita masyarakat, dulunya ada seorang kakek yang bernama ‘Mbah Pok’ yang tinggal seorang diri diwilayah pantai. Sehari-harinya ia bertani dan menggembalakan sapi disana, ketika Mbah Pok pergi mengurus sawahnya dia selalu mengikatkan ikatan sapi di pohon duras itu. Kurang lebih itu yang menjadi asal-usul nama Poktunggal yang saya dapat dari hasil obrolan dengan Ibu dan Bapak (saya lupa namanya) yang punya warung dekat parkir kendaraan. Saat kami membuat api unggun didepan tenda kami bertemu dengan dua orang pemuda yang ingin meminjam senter, sambil berkenalan ternyata dua orang ini dari Bandung yang datang kesini dengan menggunakan motor vespa. Malam itu dia bahkan cerita bakal ke Lombok dengan membawa vespa dua bulan lagi katanya, gilaaa..... ini kayaknya yang dibilang adventurer. 

Bebatuan di Pantai Indrayanti

Sunset di Poktunggal

Pantai Seruni 
Keesokan paginya kami berencana ke pantai Jogan, tapi ditengah jalan kami menemui plang kecil dari papan bertuliskan pantai Seruni yang dituliskan oleh cat seadanya. Trus terlihat jalannya pun masih turunan curam ditambah bebatuan  yang terlihat tidak cukup layak untuk dilewati sepeda motor. Namun kami malah memutuskan untuk turun melihat sebentar seperti apa pantainya, well ternyata pantai ini masih perawan. Luar biasa nikmatnya saat saya tahu tidak ada seorangpun kecuali kami yang datang ke pantai saat itu. Seakan ini milik pribadi saya, semuanya masih terlihat alami dan bentuk pantainya termasuk salah satu yang unik dari Gunung Kidul.

Pantai Jogan

Pantai Nglambor

Pantai Siung
Waktu yang tak terasa karena mulai memasuki siang hari sedangkan kereta kami untuk pulang terjadwal sore hari. Kami menuju pantai Jogan yang memakan waktu sekitar setengah jam untuk kesana. Lalu ada pantai yang baru dibuka, pantai Nglambor. Akses masuk pantai ini juga bisa dibilang sebelas duabelas dengan Seruni tapi pantainya super exotic dengan banyaknya burung camar yang terbang mengelilingi sebuah pulau kecil diseberang pantai. Ditambah arus ombak yang tenang karena sudah dulu pecah oleh batuan karang diantara pantai dan pulau kecil, saya membayangkan snorkeling disana dan suasana pun sepi tidak ada orang. Sayangnya kami bermasalah dengan waktu akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan Nglambor menuju Siung. Seharusnya ada satu lagi pantai Wediombo, yang membutuhkan waktu setengah jam lagi dari Siung tapi kami gagal karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 sedangkan kereta jam 04.00. Jadi dari target 21 pantai dalam waktu dua hari disana gagal dipenuhi dengan kami hanya mampu meraup 20 pantai. Walaupun ngga tercapai tapi Alhamdulillah semua pulang dengan selamat sampai tujuan.







Connected

© 2009-2016 In My Weird Brain. WP Mythemeshop converted by Bloggertheme9.
Powered by Blogger.
back to top